Analisa Tentang Pencapaian Inter Milan pada Musim 2009/2010

Skuad Inter Milan musim 2009/2010

Skuad Inter Milan musim 2009/2010

Sebenarnya saya sudah lama menyukai dunia sepakbola, namun baru kali ini saya menulis artikel yang berkaitan dengan sepakbola, yaitu tentang pencapaian salah satu klub favorit saya, Inter Milan. Saya “tergelitik” untuk menulis artikel ini setelah melihat apa yang telah dicapai oleh Inter selama musim 2009/2010 ini. ^^

Saya pertama kali menjadi fans Nerazzuri (julukan Inter) pada tahun 1997/1998, yang mana ketika itu masih diperkuat oleh mantan pemain terbaik dunia, Ronaldo. Sejak saat itu, saya terus mengamati sepak terjang tim dengan warna seragam biru-hitam ini dari musim ke musim. Sampai akhirnya Inter berpeluang mencapai musim terbaiknya musim ini dengan meraih 3 gelar juara: liga, piala liga, dan liga Champions. Apa yang membuat Inter berbeda musim ini?

Ketergantungan

Sejak saya mulai mengamati Inter, saya melihat ada 1 “penyakit” yang bersarang di tim ini dari musim ke musim, yaitu ketergantungan. Ya, pada musim-musim sebelumnya, Inter sangat “tergantung” terhadap pemain-pemain tertentu, yang mana jika pemain tersebut tidak bisa main karena cedera atau alasan lain, maka Inter seperti kehilangan stabilitas permainannya. Contohnya: Ronaldo, Christian Vieri, dan Zlatan Ibrahimovic yang seperti menjadi “anak emas” pada masanya.

Ibrahimovic ketika bersama Inter

Ibrahimovic ketika bersama Inter

Awal musim ini saya sempat kuatir dengan penyakit yang menghampiri Inter di hampir setiap musim ini, terutama sejak Sneijder hadir dan langsung memberi kontribusi besar. Namun rasa kuatir saya sirna ketika Inter mulai masuk ke pertengahan musim.

Permainan Inter tidak lagi hanya bergantung pada beberapa pemain saja, namun mereka bisa bekerja sama dan kompak untuk saling membantu baik saat bertahan maupun menyerang. Ketika Milito, Eto’o, dan Sneijder dijaga dengan ketat, para pemain lain seperti Motta dan Maicon bisa membantu untuk memecah kebuntuan, baik dengan memberikan umpan matang maupun mencetak gol. Ya, musim ini Inter berhasil mengatasi ketergantungannya terhadap pemain tertentu dan berevolusi menjadi tim yang mengandalkan kolektivitas.

Mentalitas

Pada musim-musim sebelumnya, Inter memang sangat kompetitif di kompetisi domestik. Namun begitu sampai di kompetisi Eropa, Inter tidak bisa berbicara banyak. Saya melihat Inter seperti tim yang tidak memiliki mentalitas untuk berkompetisi dengan tim-tim besar Eropa. Ketika kebobolan, pemain-pemain Inter seperti tidak memiliki semangat juang karena takut kalah dengan margin gol yang lebih besar.

Pertahanan Inter yang solid ketika menghadapi Chelsea

Pertahanan Inter yang solid ketika menghadapi Chelsea

Musim ini, Inter berani menampilkan permainan level tinggi ketika menghadapi tim-tim besar di kompetisi Eropa. Permainan mereka tampak lebih berkarakter dan para pemain mampu mempertahankan konsentrasi mereka selama 90 menit lebih di lapangan. Lihat saja ketika Zanetti dkk berhasil menyingkirkan Chelsea (Inggris) dan Barcelona (Spanyol) di Liga Champions, yang mana merupakan klub yang berada di peringkat teratas pada kompetisi lokal masing-masing. Para pemain seperti tidak pernah kehilangan semangat dalam mempertahankan gawangnya dari serangan-serangan pemain lawan, maupun berusaha mencetak gol ke gawang lawan. Musim ini, Inter telah menjelma menjadi tim yang memiliki mental juara di kompetisi Eropa.

Playmaker

Selama kurang-lebih 12 musim saya mengamati sepak terjang Inter, saya merasa Inter memiliki kekurangan dalam skuadnya yaitu sang pengatur serangan alias playmaker. Seperti yang kita ketahui, seorang playmaker memiliki beberapa tugas vital, seperti mengirim umpan matang ke striker, mengambil set-piece, maupun mencetak gol. Intinya, seorang playmaker harus memiliki visi dan kerja sama yang matang dengan pemain-pemain lain agar bisa menjalankan perannya secara optimal.

Inter memang pernah memiliki Alvaro Recoba dan Andrea Pirlo, namun (menurut saya) keduanya kurang mampu bekerja sama dengan pemain lainnya, sehingga mereka tidak bisa mendistribusikan bola kepada para striker Inter. Padahal saya yakin sebenarnya Recoba dan Pirlo memiliki kapabilitas untuk mengirim umpan-umpan akurat.

Wesley Sneijder berjiibaku dengan Dani Alves dari Barcelona

Wesley Sneijder berjiibaku dengan Dani Alves dari Barcelona

Pada akhir periode bursa transfer awal musim ini, Inter berhasil mendatangkan gelandang serang asal Belanda, Wesley Sneijder, dari klub raksasa Spanyol, Real Madrid. Menurut saya, transfer Sneijder ini merupakan salah satu pembelian paling krusial Inter pada musim ini.

Bagi anda yang pernah menyaksikan permainan Sneijder ketika membela Real Madrid, tentunya anda tahu bagaimana kualitasnya. Menurut saya, teknik Sneijder cukup lengkap sebagai seorang playmaker. Ia mampu memberikan umpan-umpan matang kepada pemain lain, baik secara normal maupun melalui bola-bola mati. Selain itu, ia juga memiliki tendangan jarak jauh yang akurat dan teknik tendangan bebas yang mematikan. Kalau pada musim-musim sebelumnya Inter tidak memiliki spesialis tendangan bebas, maka musim ini Inter bisa dengan leluasa menyerahkannya kepada Sneijder.

Gelandang serang berambut tipis ini juga sangat cepat dalam beradaptasi dengan rekan-rekan setimnya. Anda tentu ingat bagaimana ia bermain pada pertandingan debutnya bersama Inter Milan saat derby melawan rival sekota, AC Milan. Seingat saya, Sneijder hanya sempat berlatih sebentar bersama rekan-rekannya dan ia langsung diturunkan sebagai starter saat melawan Milan. Ia juga sempat melepaskan beberapa tendangan jarak jauh yang berbahaya, yang mana salah satunya mengenai tiang gawang AC Milan.

Musim ini, (tanpa mengecilkan peran pemain lainnya) peran Sneijder cukup krusial dalam memberikan assist yang memadai bagi Eto’o dan Milito, serta mencetak gol-gol vital pada beberapa laga. Pemain dengan peran playmaker seperti inilah yang tidak dimiliki Inter pada musim-musim sebelumnya dan hal ini membuat skuad Inter musim 2009-2010 ini semakin kokoh.

Taktik dan Strategi

Inter telah dilatih oleh banyak pelatih-pelatih yang berkaliber seperti Marcelo Lippi, Hector Cuper, Alberto Zaccheroni, namun tidak ada satu pun yang berhasil mengantarkan Inter untuk berkibar di kompetisi Eropa. Mereka gagal meramu formasi yang tepat bagi pemain-pemain Inter yang rata-rata berasal dari negara dan kultur sepakbola yang berbeda. Taktik yang mereka gunakan juga terlalu konservatif (4-4-2) dan permainan Inter juga tidak bisa berkembang karena ketergantungan pada pemain tertentu.

Jose Mourinho merayakan lolosnya Inter ke final Liga Champions

Jose Mourinho merayakan lolosnya Inter ke final Liga Champions

Tangan dingin Jose Mourinho mulai dirasakan para punggawa Nerazzuri musim lalu. Namun saat itu Inter masih tergantung pada Zlatan Ibrahimovic, sehingga Mourinho masih belum bisa membentuk karakter Inter secara sempurna. Musim ini, Inter mengambil langkah berani dengan menukar Ibrahimovic dengan Samuel Eto’o, dan inilah salah satu faktor yang menyebabkan Inter melepas ketergantungannya kepada Ibra dan berevolusi menjadi tim yang lebih mengandalkan kolektivitas.

Kita bisa melihat bagaimana Milito dan Eto’o mau membantu barisan pertahanan ketika dibutuhkan dan mereka masih tetap bisa produktif mencetak gol maupun memberikan assist bagi pemain lain. Bandingkan dengan Ibrahimovic yang terkesan “malas” untuk bertahan dan hanya menunggu bola di barisan depan. Menurut Mourinho, kemenangan hanya bisa diperoleh dengan kerja keras seluruh elemen tim dan semua pemain harus bisa bahu-membahu dalam bertahan dan menyerang.

Apapun hasil yang nanti diraih Inter di akhir musim ini, tidak dapat dipungkiri bahwa Jose Mourinho telah membentuk Inter menjadi tim yang memiliki mental untuk bersaing dalam kompetisi yang ketat, baik pada kancah domestik maupun Eropa. Ia juga piawai dalam memotivasi pemain saat melawan tim-tim besar dan meracik strategi yang tepat dalam setiap pertandingan yang dihadapi Inter.

Penutup

Musim ini merupakan kesempatan terbaik Inter untuk meraih hasil maksimal. Kombinasi antara kerja sama, mental, dan kekuatan teknis skuad, serta polesan Mourinho berpotensi untuk membuat para tifosi (fans) Inter berpesta musim ini.

Senyum Moratti saat Inter menumbangkan Barcelona pekan lalu

Senyum Moratti saat Inter menumbangkan Barcelona pekan lalu

Semoga pada akhir musim nanti, Nerazzuri bisa membuat sang presiden, Massimo Moratti tersenyum lebar (atau bahkan tertawa lepas) dengan raihan gelar yang diterima oleh Inter Milan. Forza Inter! ^^

Catatan: Artikel ini adalah murni opini saya pribadi. Saya mohon maaf apabila ada bagian artikel yang menyinggung anda, karena saya tidak ada maksud demikian. ^^

Tentang animaster

A Nendoroid collector who likes to blog about Nendoroid and take photos of Nendoroid. Works as a freelance web programmer.
Pos ini dipublikasikan di Self, Sport dan tag , . Tandai permalink.

7 Balasan ke Analisa Tentang Pencapaian Inter Milan pada Musim 2009/2010

  1. unknown berkata:

    hampir semua opini anda saya setuju selain hal2 tersebut pembelian lucio juga salah satu alasan yang membuat inter menjadi seperti sekarang dengan kekuatan dan kecepatannya pertahanan inter menjadi lebih kuat…FORZA INTER (berharap treble)

  2. Angga berkata:

    luar biasa bung..analisa lo mirip bgt ma gw..kolektivitas-mental-playmaker-strategi JM adalah faktor utama menggilanya inter musim ni..lo bener2 pemerhati inter sejati!! luar biasa..sebenernya komposisi pemain jg merupakan faktor lain.. walau bukan yg utama..hampir semua pemain inter mampu memainkan beberapa posisi berbeda.. zanetti, chivu, cambiasso, motta, sneijder, eto'o dan pandev adalah pemain2 versatile yg dimiliki inter.. sehingga kehilangan 1 ato 2 pemain andalan bukan masalah serius bagi inter.. itu tambahan dari gw aja, mengenai faktor2 kebangkitan ill grande internazionale musim ini..terima kasih..salam interisti..

  3. galih berkata:

    kereen gan. coba bikin artikel tentang kenapa klub2 lain membenci inter gan!! heheheh pasti seru

  4. animaster berkata:

    Setuju. Pembelian Inter musim ini rata-rata cukup krusial, dan itu juga merupakan salah satu faktor penentu bagusnya performa Inter musim ini. Thanks for pointing it out! ^^

  5. animaster berkata:

    Ya, benteng Inter menjadi semakin kokoh dengan hadirnya Lucio. Ia juga terkadang bisa naik membantu penyerangan, karena setahu saya posisi kesukaannya adalah sebagai libero. ^^

  6. animaster berkata:

    Kalau artikel tentang itu nantinya pasti memantik kontroversi. ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s